Sabtu, 09 Maret 2013

MAKHLUK CANTIK DI DALAM TRANS-JAKARTA

Anak-anak kelas dua belas punya kebiasaan baru.

Tepat jam satu tengah hari bolong, mereka selalu tampak asyik menunggu trans jakarta jurusan Lebak Bulus. Faiz, Mustofa, Roni, dan Arfan. Rada aneh juga, rumah mereka jadi mendadak pada pindah ke Shelter Lebak Bulus semua. Selidik punya selidik, ternyata mereka itu lagi ngejar cewek. Nggak tahu anak sekolah mana. Yang pasti setiap jam satu, wajah manisnya selalu nampak di jendela Trans jakarta jurusan Lebak Bulus-Kampung Rambutan, dekat pintu depan. Matanya yang bulat bersinar, rambutnya yang panjang terurai dengan tubuh yang mungil, sempat membuat cowok-cowok kece SMA Darus Salam itu terkagum-kagum.

Mereka melihatnya tiga hari yang lalu. Ketika mereka punya rencana mau makan-makan di Lebak Bulus Junction, dalam rangka memperingati hari yang paling bersejarah dalam kehidupan Roni, karena dia berhasil memenangkan hadiah salah satu akun kuis di twitter setelah delapan belas kali ikut. Dan saat itu mereka berempat secara serempak melongo di pintu Trans Jakarta, mengagumi makhluk cantik yang duduk dengan manisnya di dekat jendela. Penjaga shelter yang bawaannya nggak mau sabar, sempat gahar juga, "He, lu pada niat nggak sih naek bas-wey? Kok terbengong-bengong begitu?"

Faiz cs yang kaget dibentak begitu, menjawab serempak, "Kita lagi berdoa dulu kok biar selamet di jalan."

Dan sejak itu, setiap malam, mereka punya mimpi yang sama. Tentang gadis di dalam Trans Jakarta.

Makanya hari-hari berikutnya, mereka jadi sering kedapetan menunggu Trasn Jakarta jurusan Lebak Bulus. Setiap ada teman yang tanya, mereka serempak menjawab mau shopping ke Lebak Bulus point’s Square.
"Kok tiap hari shopping-nya?"
"Maklumlah, namanya juga orang kaya."
Dan sang penanya pun langsung berlalu dengan wajah dongkol.

Trasn Jakarta yang ditunggu datang, dan mereka berempat serempak bangkit dengan semangat. Tak peduli Trasn Jakarta tersebut sudah penuh sesak, mereka tetap bela-belain mengejarnya.

"Stop, Bang! Stop!" teriak mereka sambil berlompatan ke dalam Trasn Jakarta yang enggan berhenti (karena mungkin tidak terima Trans jakarta di naiki makhluk-makhluk seperti ini). Sang penjaga shelter melirik jengkel pada mereka. Bukan apa-apa, makhluk-makhluk ini kalau naik bis pada ribut sekali. Padahal bayarnya cuma noceng. Dia apal betul. Terutama dengan Faiz yang selalu mengulum permen karet. Atau Roni, playboy SMA Darus Salam yang wajahnya gabungan antara Rico Ceper dan Benyamin (wah, mentok banget deh!)

Dan seperti ramalan sang kondektur, kala penumpang sudah banyak yang turun, makhluk-makhluk SMA Darus Salam itu mulai menggoda-goda cewek tadi dengan ributnya.

"Hei, Cewek, kenalan dong. Nama saya Roni. Cowok paling kesohor di SMA Darus Salam. Pernah jadi cowok sampul majalah ----- Bobo. Saya punya motor bebek merah, yang sekarang --karena satu dan lain hal-- lagi ngadat nggak bisa dipakai. Mungkin tali kipasnya putus (bego juga si Roni ini, motor mana ada tali kipasnya?). Tapi jangan kuatir, motor saya yang lainnya banyak kok. Tinggal pilih aja mau pake yang mana. Setiap hari ganti-ganti. Di samping itu, saya ini bintang film lho. Saya sering nongol di tipi dalam acara..."
"Animal on Discovery Channel!" celetuk Arfan dari belakang.
"Bukan! Alam Lain!" Faiz ikutan ngomong, membela Roni.

Roni melotot sewot ke arah Faiz dan Arfan yang cekikikan.
"Jangan dengarkan mereka, Cewek manis. Maklum aja, orang top memang banyak yang nyirikin. Tapi saya udah biasa. Nah mau kan kenalan sama saya?"

Cewek itu tak bereaksi. Cuma senyum dikit.
"Jangan mau sama Roni, Cewek manis. Doi jarang jajan. Mending sama saya aja. Nama saya Arfan. Orangnya rada malu-malu kayak kucing, tapi lebih ngetop daripada Roni. Saya juga sering nongol di film-film cookies itu loch FTV, sebagai peran utama..."
"Bo'ong! Jangan percaya!" Faiz berteriak dari belakang. "Dia itu sebetulnya yang jadi Pak Ogah di cerita Laptop Si Unyil!"
Arfan ngamuk-ngamuk.
"Enggak, saya bener. Masak kamu nggak ngenalin wajah saya yang begini familiar, sih? Look at me!"

"Iya, dia memang main di FTV. Tapi cuma jadi stuntman. Jadi kalau kebetulan pas ada adegan orang digebukin, nah, dialah yang dipakai. Mendingan sama saya aja. Nama saya Faiz. Punya dua grup hadhroh loch. Saya ini orangnya sederhana, apa adanya, nggak kayak Roni yang..."
"Dodol! Kok saya terus yang dijadikan kambing hitam?!" protes Roni.

"Emang lu kambing!" balas Faiz cuwek.
"Sori, tadi ada gangguan teknis. Sampai di mana tadi? Oya, saya ini orangnya sederhana. Padahal sebetulnya saya ini orang kaya lho. Gimana nggak kaya, saya kalo abis mengulum permen karet, langsung dibuang, nggak pernah ditelen. Jadi sekali pakai, langsung buang. Nggak kayak Roni, suka dipungut dan dikunyah lagi."

Sekarang giliran Roni yang ngamuk-ngamuk.
Langsung mengacak-acak rambut Faiz. Faiz berteriak-teriak ribut sekali. Duh itu kelakuan, kayak anak play group aja!!!

"Alaaaah, kalian semua pada kayak anak kecil. Mending pacaran sama saya aja, Cewek manis. Saya ini orangnya dewasa, jantan, dan... kamu pasti akan merasakan kehangatan begitu jatuh dalam pelukanku...", kali ini Mustofa yang maju.
"Emangnya kebab turki, pake anget segala?" Faiz nyeletuk lagi dari belakang.
Mustofa cuwek. Terus merayu. Tapi sayang, bis telah memasuki shelter kampung rambutan. Jadi acara lomba merayu itu terpaksa ditunda dulu sampai besok. Sang kondektur menarik napas lega, sambil baca alhamdulillah seratus kali.
"Jangan kuatir, Mus, besok kita pasti naik bis ini lagi. Daag!" ujar Faiz sambil menepuk-nepuk bahu kondektur. Kondektur itu melotot galak, dan Faiz cepat-cepat melompat turun menyusul teman-temannya.

*

Tapi dua hari kemudian, Faiz, Roni, dan Mustofa dikejutkan oleh berita yang dibawa Arfan. Arfan bilang bahwa cewek manis itu sekarang udah jadi ceweknya, jadi dilarang ada yang menggodanya lagi. Dan sialnya ternyata berita itu benar. Ketika pulang sekolah, Arfan sialan itu dengan santainya ngobrol berduaan dengan cewek manis itu di Trasn Jakarta.
Faiz, Roni, dan Mustofa keki berat.
"Kamu curang, fan! Kapan kamu berhasil ngerayunya? Selama ini kan kita senasib dicuwekin terus sama dia? Iya nggak, iya nggak?" protes Mustofa.
"Kamu pake ilmu santet, ya?" Roni ikutan sirik.
Arfan cuma senyum-senyum aja. Duile, mending manis? Dan usut punya usut, ternyata tanpa setahu teman-temannya, si Dodol itu nekat datang ke rumah cewek tersebut. Nggak jelas, dia dapet alamat dari mana. Yang pasti, rayuannya berhasil dan makhluk manis berambut panjang itu jatuh ke tangannya. Dan kunci kesuksesannya adalah karena ternyata cewek itu termasuk hobi nonton film serial FTV, dan pernah ngeliat si Arfan yang ikut cengengesan nampang sebagai peran pengganti alias stuntman. Maka, muluslah jalan baginya. Sial banget!
"Huh, baru main jadi figuran di FTV aja digila-gilain. Cewek itu nggak tau 'kali, kalau saya juga bisa main pilem begituan," gerutu Roni.
"Iya-- saya juga sering ngeliat kamu jadi model iklan di bioskop, radio, dan koran-koran. Iya, kan? Betul itu kamu?" Faiz bertanya.
"Eh, kamu tau juga? Iya. Itu saya. Kapan kamu ngeliatnya? Di iklan apa? Iklan sepatu? Iklan pakaian pria masa kini? Atau... jangan-jangan yang kamu liat itu Gading Marten. Karena, ya--maklumlah, wajah saya kan mirip-mirip dia, meski tetap kecean saya. Iya, kan? Kamu ngeliat saya di iklan apa?"
"Itu lho... iklan Kalpanax. Obat panu."

*

Dua hari berlalu hampa. Tak ada wajah-wajah ceria ketika bis jurusan Lebak Bulus datang tepat jam satu siang. Cuma Arfan yang langsung bangkit dan ikut pergi bersama bis kenangan itu. Yang lain tinggal, atau terus pulang.
Tapi seminggu kemudian, mereka kembali dihebohkan dengan makhluk cantik lainnya di Trans Jakarta jurusan Pondok Indah. Pertamanya Faiz tak begitu menyadari akan kehadiran gadis itu, tapi begitu besoknya ketemu lagi, Faiz mulai ribut-ribut menceritakan 'penemuannya' itu kepada teman-temannya.
"Wah, pokoknya nggak kalah cakep deh. Saya selalu ketemu dengannya kalau pulang sekolah jam setengah dua!" celoteh Faiz. Kontan aja anak-anak pada tertarik, dan kini, rumah mereka mendadak pada pindah ke Pondok Indah semua.
Maka hari-hari selanjutnya, tepat jam setengah dua, Faiz, Roni, dan Mustofa selalu nampak asyik menunggu Trans Jakarta jurusan Pondok Indah Kejadian yang lalu terulang lagi. Ribut-ribut di Trans Jakarta, merayu sang cewek, tertawa, dan tentu saja, bikin jengkel sang kondektur Trasn Jakarta.
Dan suatu ketika, saat mereka bertiga lagi asyik menunggu Trasn Jakarta, Arfan nampak berlari-lari ke arah mereka.
"Lho, mau ngapain Fan? Kamu nggak boleh ikutan lagi dong. Kan udah dapet yang dulu?" tegur Mustofa.
"Yaaaa, saya ikutan lagi dong!" rengek Arfan.
"Wah, enggak bisa. Nanti kamu menang lagi. Terus kita-kita jadi nggak bisa hura-hura lagi kalau pulang sekolah."
"Enggak deh, saya janji. Saya emang seneng banget waktu ngedapetin cewek yang kemarin itu. Berarti kan saya lebih kece dari kamu-kamu..."
"Wuuuuuuuu!" anak-anak pada protes.

"Eit, nanti dulu. Tapi senengnya cuma sebentar. Karena selanjutnya jadi begitu-begitu aja. Monoton. Tiap hari nganterin dia pulang, mampir ke rumahnya, ngobrol. Gitu-gitu terus. Nggak ada seninya. Saya jadi ngiri ketika kalian pada nemuin cewek baru lagi. Jadi kepingin ikut-ikutan ngegodain, ngerayu, ngejar-ngejar, seperti dulu. Nggak tau tuh, kenapa. Menurut kamu kenapa, Ron?"

"Simpel. Mungkin cinta kamu ditolak!" jawab Roni kalem.
"Enak aja. Kamu liat sendiri saya bisa dengan mudah ngedapetin dia!" Arfan ngotot.

"Ealah, malah pada ribut. Mungkin Arfan bener. Ngejar-ngejar cewek mungkin lebih enak daripada kalau udah ngedapetin. Soalnya kita masih remaja. Masih ingin bebas. Jiwa hura-hura kita kan lebih besar daripada jiwa romantisme kita. Dan kata orang, cewek itu ibarat bis. Lewat yang satu, bisa menunggu yang berikutnya. Jadi nggak usah terlalu dikejar. Apalagi pake patah hati segala. Iya nggak? Dan anehnya, kita kadang suka sekali mengejar-ngejar sesuatu yang sebetulnya tidak kita inginkan benar. Tapi nggak apa-apa kok. Namanya juga anak muda," kata Faiz sok berfilsafat, sampe teman-temannya pada ngantuk semua.

"Eh, itu Trasn Jakarta nya datang. Ayo siap-siap!"
Mereka berempat secara serempak bangkit. Lalu mengejar-ngejar bis dengan semangat '45, sambil berteriak-teriak ribut sekali. Kejadian yang dulu pun terulang lagi.
Dan, mereka akan terus begitu. Sampai suatu saat nanti mereka begitu lelah untuk mengepakkan sayap-sayap kecil milik mereka, dan hinggap pada sekuntum bunga. Di mana mereka akan menemukan segalanya.
Dan, mereka pun enggan untuk terbang lagi...



Buat yang tidak tahu Trans Jakarta, lazimnya dinamakan dengan Bas-Wey. Hehehehe :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar