Jumat, 23 November 2012

Sistem yang carut marut

Kuhisap secangkir kopi dipagi itu, menunggu dosen yang tak kunjung datang. Memang sudah menjadi kebiasaanku menghabiskan waktu pagi dengan nongkrong di basement fakultasku. Bukan untuk mencari eksistensi dari para juniorku, hanya sekedar ingin mencari kawan berdiskusi. Dan pula dari basement lah aku dapat melihat dosenku yang akan masuk ke dalam kelas. Dan pagi itu sepertinya dosen untuk jam pertamaku tidak hadir, karena setahuku beliau tidak pernah telat. Dan ini sudah setengah jam, tanpa perlu sms ataupun menelepon kawanku yang ada di kelas, aku sudah yakin bahkan haqqul yaqin bahwa dosenku tidak akan hadir di kelasku. Sambil masih menunggu kawan yang bisa di ajak berdiskusi aku menyalakan note book acer ku. Mencari sinyal wi fi, untuk seterusnya membuka jejaring sosialku dimulai dari facebook, twitter, dan kaskus. Aku juga mengecek blog-blog ku takut-takut ada pertanyaan yang harus ku jawab. Tapi ternyata tidak ada apa-apa di blog maupun jejaring sosialku, tidak ada yang menarik hanya komentar-komentar iseng, ataupun mention-mention konyol dari kawan-kawanku. Ku gerakkan jari-jariku untuk mengetik beberapa website, akhirnya ku buka okezone.com dan vivanews.com untuk membaca berita-berita di portal-portal digital, ku baca dan sesekali aku berpikir dan merenung tentang sebuah rezim yang sudah memperburuk Negara Indonesia ini.
Datanglah gerombolan kawan-kawanku dari kelas lain, namun masih satu jurusan denganku. Anam, Ipul, Saugi, Oqi, dan tak lupa ketua suku dalam gerombolan ini Rhama, sahabat gempalku yang kadang dari dialah aku memiliki sebuah ide untuk membuat konsep acara di kampus atau sekedar iseng membuat sistem-sistem aneh. Akhirnya kami berkumpul untuk berdiskusi, ada derai tawa dan canda dalam diskusi awal kita pagi itu, sempat kita membicarakan gossip-gosip yang terbawa angin di fakultasku. Membicarakan seniorku yang berbagi pacar dengan senior yang lain, sahabatku yang sering berganti-ganti pacar, dan yang terakhir adalah meratapi nasib kita bersama yang sampai saat ini masih jomblo, lebih tepatnya kita merasa beruntung tidak memiliki pasangan karena dengan ini kita bebas merdeka. Setelah puas membicarakan aib orang diskusi kita beralih tentang mahasiswi-mahasisiwi yang menggoda iman, yang tidak lama kemudian muncullah beberapa nama Nadia, Itsna, Azka, Raisa, Nabila, Aida, Stella, Ega, Sopia, Diba, Fara, dan masih banyak nama yang lainnya. Sejenak aku tercenang nama yang kita sebutkan memiliki akhiran imbuhan yang sama “a”. entah mungkin karena kebetulan atau setiap bayi perempuan yang lahir dan memiliki pasar cantik wajib memiliki nama dengan imbuhan akhir “a”.
Barulah kita membicarakan hal-hal yang lebih seru menurutku, kita membicarakan pemerintah yang sedang mencoba menutup lobang demi lobang yang telah mereka buat. Carut marut situasi dan amburadulnya Negara ini adalah akibat kebobrokan sistem pemerintahan rezim pemerintah SBY sekarang ini. Dari awal memimpin hingga sekarang, SBY menganut sistem demokrasi emosional dibungkus pencitraan semu. Ketidakmampuan ini Nampak jelas dengan terjadinya banyak penyimpangan dan penyelewengan di bidang hukum. Isu berantai secara episode yang dibesar-besarkan semakin meyakinkan sekelompok pihak selalu berusaha menciptakan isu baru. Untuk menutupi kasus lainnya. Padahal, sebelum Presiden, POLRI, dan Institusi penegak hukum lainnya sangat antusias membasmi perihal korupsi. Namun, tatkala perihal korupsi melanda institusi mereka sendiri atau pejabat yang sedang berkuasa, isu teroris dan isu lainnya ikut menutup sebagai pengalihan isu, ku lihat mata kawanku Anam berapi-api, mata seorang anak yang lahir di kampung yang sangat jauh dari peradaban, listrik belum ada di kampungnya, atau mungkin di kampungnya hanya dia yang dapat kuliah, di Jakarta pula.
Ku resapi setiap makna yang muncul dari perkataan-perkataan kawanku ini. Antara satu dengan yang lain peristiwa penuh kejanggalan dan keanehan. Banyak yang menduga bahwa kasus dana talangan Bank Century yang mengemuka hanyalah pada akhir Agustus hingga awal Oktober tahun lalunhanyalah bermuatan politis dalam rangka penyusunan cabinet pemerintahan SBY-Boediono. Memang Resonansi politis atas kasus Bank Century cukup kuat, termasuk dalam pembentukan Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) Jilid II. Kasus Century juga ada keterkaitan upaya pelemahan KPK tak bisa dipisahkan. Dalam konteks ini, Anggodo Widjojo sebagai aktor pengatur Jaksa dan Polisi seperti martil dalam pelemahan KPK dan pengaburan Bank Century sekaligus. Kemudian terjadinya kisruh KPK versus POLRI seyogyanya tidak hanya berhenti pada pembebasan Chandra M Hamzah dan Bibit Samad Riyanto dalam upaya pelemahan serta kriminalisasi KPK hanyalah babak awal dari upaya pengaburan kasus bailout Bank Century Rp. 6,7 Triliun, jumlah yang sangat-sangat fantastis. Kawanku Ipuk menelan air ludah, rokok supernya masih menempel manis di bibirnya, dengan satu hembusan berat dia geleng-geleng kepala. Lalu siapakah otak di balik semua ini ?
Kasus Bank Century memang cukup tinggi tensi politiknya. Sebagaimana penjelasan mantan Wapres Jusuf Kalla yang mengaku pengucuran dana bailout Bank Century Rp. 6,7 Triliun dari dana LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) tanpa dikonsultasikan dirinya sebelum pengucuran oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani. Pengucuran dana talangan itu dilakukan setelah perundingan di Komite Sistem Stabilitas Keuangan (KSSK) yang tersiri dari Bank Indonesia (BI) ex officio Gubernur BI dan Menteri Keuangan ex officio ketua KSSK. Sekjen Tranparency International Indonesia (TII) Tenten Masduki menilai terdapat tali temali antara kelemahan KPK dengan kasus dana talangan Bank Century . “Jika KPK masuk perangkap pelemahan, maka kasus Bank Century akan menguap dan berhenti, sehingga mereka akan “tepuk tangan”. Saya kira tidak hanya kasus Century, tetapi kasus Agus Condro yang melibatkan banyak elit juga berhenti. Jika ada penumpang gelap yang diuntungkan,” ujarnya
Obrolan demi obrolan kita lewati dengan sangat seksama mendengarkan uraian yang keluar dari mulut kawan-kawanku, seskali aku yang berbicara mereka yang menyimak dan tak jarang mengoreksi setiap perkataan yang menurut mereka kurang tepat mendefinisikan berita yang kita bincangkan. Kopi yang ku beli di kantin fakultas sebelah sudah hampir habis namun obrolan-obrolan kami tidak berhenti sekalipun nyaris tidak ada kopi yang bisa kita sruput. Konflik antara POLRI dan KPK menjadi isu hangat di masyarakat sebagai “drama CICAK vs BUAYA” kembali memanas. Kedua lembaga penegak hukum itu saling membongkar keterlibatan oknum pejabat mereka dalam kasus-kasus penyalahgunaan kewenangan dan jabatan. Istilah Cicak vs Buaya dimunculkan oleh KABARESKRIM POLRI Susno Duadji terkait ponselnya disadap oleh KPK. Susno mengibaratkan penyadapan teleponnya terkait penangkapan KPK atas Bank Century seperti Cicak dan Buaya, Jika KPK adalah Cicak maka Polisi merupakan Buaya. Dari situlah, kontroversi Chandra-Bibit muncul. Mulai dari sangkaan penyalahgunaan wewenang dan jabatan, penerimaan suap, hingga upaya pemerasan terhadap buronan KPK Anggoro Widjojo. Kondisi ini diperparah dengan testimony Antasari terkait penerimaan suap pimpinan KPK Anggoro Widjojo. Hingga akhirnya kasus ini menggelinding sampai pada taraf pemutaran rekaman percakapan antara Anggodo Widjojo dengan sejumlah pejabat Kejaksaan Agung dan Kepolisian yang diduga sebagai upaya rekayasa kasus Chandra-Bibit. Tim delapan mengakui terdapat keterkaitan antara kasus hukum Chandra Hamzah-Bibit Samad Rianto dan pencairan dana nasabah terbesar Bank Century, Budi Sampurno, yang melibatkan KABARESKRIM non aktif Susno Duadji.
Sangat seru hingga akhirnya kawan kelasku mengirim pesan pendek yang membuatku harus meninggalkan forum diskusi illegal tersebut. Aku berlari menuju lift, aku tekan tombol 5 di lift hanya ada beberapa mahasiswa yang sama denganku ingin segera masuk kelas. Aku baca lag isms yang masuk dari kawan karibku Agung, “bung dosen udah masuk, sekarang ada kuis dadakan”. Wah, gaswat pikirku, tidak mungkin harti ini ada kuis dadakan sedangkan aku belum pernah membaca buku tentang mata kuliah yang akan dikuiskan. Ya sudah ku jawab saja dengan jawaban yang simpel nanti. Ku ceritakan tentang sistem yang carut marut hancur tak karuan yang ada di Negara Tercintaku Indonesia.

AKKB

-->
Alas Keras Keramik Basement
Alas keras keramik basement
Menemani setiap obrolan-obrolan yang kami bincang
Lagu-lagu yang kami dendang
Isu-isu buruk yang kami tendang
Pejabat-pejabat bejat yang kami serang
Politisi-politisi korup yang kami buang

Alas keras keramik basement
Kita namai ini sebuah sarang
Tempat macan-macan yang siap berperang
Prajurit sejati yang membawa pedang
Membantu masyarakat yang sudah berang

Alas keras keramik Basement
Debat diskusi mencari menang
Semua kawan tak ada curang
berjuang mencari peluang
Berharap ia akan datang
Ide-ide cemerlang yang terang benderang

Pagi itu seperti biasa aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku, tidak ada kuliah. Aku jelang matahari dengan segelas teh panas karena di pagi ini aku bebas tanpa kelas, lembar demi lembar aku baca. Setiap kalimat yang keluar dari buku itu aku coba pahami dan resapi maknyanya. Sangat indah, semakin aku sering membaca buku maka semakin aku merasa bodoh. Dunia ini sungguh luas, ilmu dan informasi semakin hari semakin meninggi. Kadang aku merasa tidak dapat mengimbanginya, aku terasa kecil dalam perkembangan ilmu dan informasi yang besar. Tetapi aku tidak berkecil hati, aku berusaha dan mencoba untuk menguasai dan mengetahui setiap informasi dan setiap ilmu yang kubaca dari buku, yang kudapat dari bangku kuliah ataupun alas keramik keras basement kampusku. Alas basement kampus yang sekarang kurindu, karena ketika semester awal dari sanalah aku mendapatkan ilmu, entah itu keluar dari seniorku, dari kawan seangkatanku, ataupun dari juniorku. Aku sangat rindu suasana itu, namun kini itu semua tinggal kenangan. Mahasiswa di zaman sekarang lebih asyik menghabiskan waktu mereka di Mall-mall, café-café, restoran-restoran, sevel-sevel, ataupun tempat-tempat kapitalis lainnya. Aku muak, aku bosan. Padahal dari alas keras keramik basement itulah kadang muncul ide-ide brilliant tentang jalan keluar masalah-masalah internal kampus, event-event mahasiswa, dan bahkan jalan keluar dari sebuah masalah yang sedang di risaukan oleh Negara. Lebay memang, tapi itulah kenyataannya. Alas keras keramik itu kini hanya menjadi tempat pembuangan sampah mahasiswa yang asyik nongkrong atau pacaran. Buku yang dulu menjadi kawan mahasiswa, kini hanya menjadi pajangan di lemari-lemari buku di kots-kots mereka. Mereka kini tak ubahnya seperti boneka wayang yang dimainkan oleh dalang, namun dalangnya tak terlihat, dalang itu bernama Kapitalishedonisme.

Dalang tersebut sangat menginginkan para wayangnya untuk sibuk dengan kesenangan duniawi dan membuat lupa para wayangnya bahwa mereka adalah agent of change, lalu dimanakah bersembunyinya jargon yang dahulu pernah ditakuti oleh seluruh pejabat pemerintahan ? Jargon yang membuat bulu kuduk pejabat pemerintah yang korupsi ? Mahasiswa tak ubahnya seperti anak SMA, SMP, atau bahkan SD karena mereka hanya mendapatkan ilmu dari dosen-dosen mereka tanpa mereka berani mengkritisi ataupun menolak argument yang disampaikan dosen tadi. Cukup sudah drama yang dibuat oleh Mahasiswa zaman sekarang. Dosen ibarat sutradara dan Mahasiswa sebagai aktor kelas teri yang bisa dimanfaatkan oleh dosen-dosen mereka, andai alas keras keramik basement masih ada dan dapat dipakai untuk membuka forum-forum diskusi mungkin Mahasiswa di zaman sekarang tidak akan terkungkung dan menjadi wayang bagi dalang Kapitalishedonisme.
Kini di otak mereka hanyalah bagaimana caranya mereka bisa hidup senang tanpa ada gangguan dan hambatan yang berat. Mereka tidak berani membuka mata terhadap informasi baru, mereka terlalu takut beropini terhadap pemerintah. Aktivis yang dahulu menjadi orang-orang penting di kampus hanya mencari eksistensi tanpa mengimbanginya dengan esensi, akhirnya yang muncul adalah mahasiswa-mahasiswa sok tahu yang hanya bisa berbicara tanpa dapat membuat konsep ataupun membuat system baru. Paradigm ini diperparah dengan adanya demo bayaran, yang isinya adalah mahasiswa yang hanya mencari keuntungan dari aksi tersebut. Walaupun tidak semua mahasiswa yang ikut dalam aksi bayaran memiliki pandangan matrealistis. Tapi ada yang lebih parah, mahasiswa yang aksi hanya mencari sensasi ataupun mencari esksistensi. Agar dibilang dia adalah aktivis sejati, yang sejatinya hanyalah bullshit. Aksi tanpa memahami grand title yang dibawa oleh para masa aksi itu, ini terjadi di beberapa kampus, ketika penulis ikut dalam sebuah aksi besar dengan grand title yang besar dan masa aksi dalam jumlah besar pula. Banyak dari kawan-kawan penulsi yang tidak tahu aksi apa ? Ataupun prosedur dari aksi tersebut. Bahkan ada dari beberapa mereka yang mengaku ikut aksi karena di paksa oleh senior. Lalu ? Siapa yang salah senior yang tidak mengajak briefing membahas grand title aksi ? Atau juniornya yang mau saja diketeki oleh para Senior mereka ? Biasanya junior yang ikut aksi dipaksa oleh senior mereka berpikir lebih baik mereka masih bisa ikut aksi (walaupun dipaksa) daripada kawan-kawannya yang lain yang sama sekali tidak ikut aksi dan hanya bisa menonton mereka dari layar televisi. Benar-benar banyak yang salah dari sistem yang ada di dunia Mahasiswa zaman sekarang. Semoga saka dalang Kapitalishedonisme itu dapat segera kita bunuh bersama-sama, hingga jargon mahasiswa sebagai agent of change benar-benar dapat terealisasi dan dapat dirasakan manfaatnya oleh Bangsa, Nusa dan Agama untuk kedepannya.
Dian Ajis Syah Putra

Kamis, 15 November 2012

Sahabat
















Banyak panggilan buat seseorang kita anggap dekat dengan kita,
seseorang yang kita anggap nge-klik dengan kita,
seseorang yang kita anggap sangat bernilai,
seseorang yang kita anggap berjasa,
seseorang yang kita anggap tempat menumpahkan segala rasa.

Yaitu sahabat, kawan, teman, sobat, freind, sohib mungkin masi ada lagi panggilan yang lain.
Sahabat memang sangat berarti dalam hidup kita.
Setiap kita berjalan terus dan dari situlah kita menemukan sahabat.
Sahabat sebagian besar mengerti kita.
Sahabat kadang mengetahui apa mau kita.
Sahabat melengkapi kekurangan kita.
Dan sahabat menghibur kita.
Mungkin bisa dikatakan lebih dari segalanya.
Dimana ada tawa disitu ada sahabat.
Dimana ada tangis disitu ada sahabat.
Sahabat pun ada batasnya.
Menjaga kebersamaan adalah kunci dari persahabatan.
Agar terjalin sebuah tali kepercayaan satu sama lain.

Buat sahabat-sahabat terbaik ku yang sudah ada dalam kebersamaan

My Brain Always Thingking ABout You

Saat ku terbuai dalam tidur.
Ada banyak bayang semu.
Yang tak bisa ku gapai.
Pikiran pun terbawa hanyut.
Akan indahnya sinaran redup.
Yang menarik ku bak kilat.
Terus merasuk hampir ke alam mimpi.
Menjelajah ke angan fatamorgana.
Dalam gelapnya cahaya.
Sampai disuatu tempat nan indah.
Hampir ku dapat bayang itu.
Namun angin menyapa ku.
Ku terbangun sadar.
Ternyata hanya bayang mu yang hadir dalam angan.
Yang telah membuat ku setengah terlelap.
Dalam keheningan malam ini.

Pesantren Lembaga Pendidikan Moderat

Menarik membaca tulisan Ririn Handayani yang berjudul “Mengembalikan Citra Positif Pesantren” di harian ini, Jum’at (29/6) lalu. Ririn mengatakan bahwa akhir-akhir ini pesantren mendapat stigma negatif sebagai sarang teroris. Menurutnya, ada dua faktor utama yang melatarbelakangi stigmatisasi negatif terhadap pesantren itu. Pertama, adanya oknum-oknum pesantren yang terbukti melakukan tindakan teroris. Kedua, interpretasi yang salah oleh sebagian orang terhadap konsep jihad dalam Islam.

Argumen Ririn di atas tentu sangat beralasan. Sebab, sejak terungkapnya para pelaku pengeboman Bali yang dilakukan oleh para alumni pesantren, sontak persepsi masyarakat terhadap pesantren menjadi berubah. Tudingan pesantren sebagai “sarang teroris” pun merebak. Yang teranyar adalah ledakan bom dan penemuan sejumlah senjata di sebuah “kamp militer” Umar bin Khattab, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB). Tragedi ini menyedihkan mengingat “kamp” tersebut menyebut diri sebagai pondok pesantren, bahkan membawa nama sahabat Umar bin Khattab.

Hal itu ditambah dengan pemahaman agama yang cenderung tekstual. Sebagai contoh, pemaknaan terhadap konsep jihad, misalnya, hingga kini masih dipahami secara literal sebagai perjuangan “turun jalan” dengan membawa senjata seperti peperangan di masa Nabi. Padahal, Nabi sendiri menyebut perang Badar yang memanggul senjata itu sebagai jihad asghar (jihad kecil). Jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu.

Ini menandakan bahwa kita masih terlampau tertutupi oleh selimut fikih secara rapat. Kita masih gagal menangkap pesan substansialnya sebuah agama atau maqasid al-syari"ah (tujuan dari syariat) dari diturunkannya agama itu sendiri. Inilah-yang pelan-pelan tapi pasti-jika tidak segera diatasi akan membuat stigma pesantren menjadi buruk.

Sejarah Pesantren

Dalam sejarahnya, pesantren hadir tak lepas dari keterpanggilannya menegakkan Islam yang ramah dan toleran terhadap kemajemukan dan budaya Nusantara. Pesantren didirikan oleh para kiai Nahdlatul Ulama (NU). Indonesia sendiri bisa tegak berdiri tak luput dari peran dan jasa pesantren. Kiai dan santri sebagai “penjaga gawang” sah pesantren tak bosan-bosannya memperjuangkan negeri ini dari genggaman penjajah. Pesantren yang mengajarkan pendidikan moral dan adiluhung itu telah ikut serta dalam mengawal perjalanan bangsa ini, dari pra kemerdekaan, hingga sekarang.

Memang, pendidikan pesantren identik dengan pendidikan tradisional. Tapi justru dalam pendidikan tradisional itulah pesantren menyimpan nilai-nilai yang sangat penting untuk dimiliki bangsa ini. Sebab, ajaran yang tertera dalam pendidikan pesantren senafas dengan nilai-nilai kebangsaan. Justru yang membahayakan pesantren sekarang adalah ihwal polarisasi. Kini pesantren mengalami polarisasi yang cukup masif. Martin Van Bruinessen (1995) menyebut pesantren sebagai institusi keagamaan yang mengalami polarisasi ke dalam pola tradisional, modernis, reformis, dan fundamentalis. Di sinilah pesantren sudah bukan lagi menjadi karakter khas kelompok tradisional yang selama ini dikembangkan para kiai nahdliyin, tapi sudah memiliki aliran (Islam) masing-masing disesuaikan dengan ideologi pendirinya.

Dalam perkembangannya, polarisasi pesantren ini ibarat pedang bermata dua. Di satu sisi, eksistensi dan perkembangan pesantren semakin terlihat karena banyaknya pesantren yang berdiri, meskipun berbeda-beda varian ideologinya. Namun di sisi lain, kehadiran pesantren-pesantren baru tersebut acap kali menjadi bumerang bagi posisi pesantren yang sesungguhnya (tradisional-nahdliyin). Karena tidak ada aturan yang jelas mengenai pendirian pesantren seperti halnya mendirikan sekolahan, maka pesantren pun bermunculan bak cendawan di musim hujan, dan bahkan banyak yang melenceng dari visi kebangsaan.

Sekarang ini banyak pesantren versi Timur Tengah yang secara ruh dan ajarannya sudah jauh dari visi besar bagaimana pesantren itu didirikan. Pesantren seperti ini berwatak radikal dan ingin melakukan puritanisasi Islam. Paham mereka Wahabisme yang secara literal hadir ke Nusantara tanpa melalui transmisi budaya. Dalam perkembangannya, jaringan ini meluas tidak hanya berpatokan pada madzab Wahabisme, tapi juga mengambil ideologi radikal sejumlah intelektual, seperti Al-Maududi, Hasan Al-Banna, Hasan Turabi, Sayyid Qurb, dan sebagainya. Misinya, ideologi radikal yang bercambah di Timur Tengah itu hendak dipraktikkan di Tanah Air.

Ideologi radikal itu kemudian dibumbui pengajaran agama yang eksklusif dan dogmatis. Istilah Zionis-Kafir menjelma menjadi perjuangan mereka. Sehingga, aksi kekerasan apapun sah dilakukan untuk menghancurkan Zionis-Kafir, yang mereka sebut-sebut sebagai musuh Islam. Mereka juga menyebut aksi yang dilakukan dengan jihad.

Tentu saja, pengajaran seperti itu sudah tidak murni sebagai kesadaran otentik masyarakat Islam Nusantara, bahkan bisa dibilang seperti sesuatu yang aneh dan baru belakangan muncul. Sebab, posisi pesantren sebagai institusi keagamaan tidak didirikan untuk melahirkan radikalisme. Pesantren mengajarkan semua hal yang ada dalam agama; dari tauhid, syariat, hingga akhlak. Pendidikan pesantren diproyeksikan untuk menghasilkan out put (lulusan) yang berpengetahuan luas dan mampu melakukan dakwah di tengah-tengah masyarakat secara kontekstual dan santun, mengindahkan budaya setempat (Nusantara).

Moderat

Nurcholis Madjid dalam bukunya Bilik-bilik Pesantren (1997) pernah mengatakan bahwa pesantren mengandung makna keislaman sekaligus keaslian Nusantara. Sebab, kata “santri” sendiri berasal dari istilah sansekerta “sastri” yang berarti “melek huruf”, atau dari bahasa Jawa “cantrik” yang berarti orang yang mengikuti gurunya kemanapun pergi. Dari sini dapat disimpulkan, pesantren itu prodak asli Nusantara, karena itu ia harus menyatu dengan budaya-budaya nusantara, bukan budaya Timur Tengah.

Apalagi pesantren sendiri adalah bagian dari kontribusi NU di bidang pendidikan. Secara geneologis, arah pendidikan pesantren sangat mirip dengan prinsip-prinsip dasar kebangsaan NU, yakni keseimbangan antara ukhuwah Islamiah (persaudaraan sesama Islam), ukhuwah basyariah (persaudaraan sesama manusia), dan ukhuwah wathaniyah (persaudaraan sebangsa).

Fakta menunjukkan, tokoh-tokoh pesantren generasi awal seperti KH Hasyim Asy’ari, KH Ahmad Siddiq, KH Sahal Mahfudz adalah orang-orang yang tidak pernah memakai jalan radikal dalam melancarkan dakwah Islamnya. Para kiai ini justru menunjukkan wajah Islam yang ramah, akomodatif terhadap perubahan zaman, sehingga menunculkan karakter yang toleran dan damai.

Sebagai bagian dari perjuangan NU, watak pendidikan pesantren pun senafas dengan watak orang Jawa yang mementingkan keselarasan hubungan antarmanusia, seperti sikap moderat dan cenderung memilih “jalan damai”. Karena itu, dalam ranah ideologis atau madzhab, pendidikan pesantren lebih condong kepada Imam Syafi’i yang menjadi panutan mayoritas Muslim Indonesia: “Pendapatku adalah benar yang mengandung kemungkinan salah. Sedangkan pendapat pihak lain adalah salah yang mengandung kemungkinan benar.”

Sebab, sikap terbaik dalam segala hal adalah moderat (khair al-umûr awsâthuhâ). Demikian prinsip yang dikenal luas di kalangan pesantren. Moderat adalah bentuk dari keniscayaan toleransi sebagai ajaran paling mendasar dalam Islam. Tentu saja, prinsip ini tidak hanya berlaku dalam konteks pendidikan pesantren, melainkan telah menjadi semangat utama di balik hampir seluruh disiplin ilmu pengetahuan dalam Islam.

Ternyata Kau Begitu Indah


















Tertawa..menangis, itu biasa
Merayu..merajuk, itu pun biasa
tetapi mengapa selalu sulit untuk memaknai
terlalu sering...sukar untuk memahami
perjalanan demi perjalanan telah terlalui
merajut pengalaman berlembar-lembar
tapi mengapa masih juga terasa hambar
pahit getir kehidupan tereguk sudah
manis madu tercicipi bibir yang merah
namun,
memaknai dan memahami
begitu sukarnya...
Tuhan...ya Rob...bantu aku...
bukakan hatiku
bukakan pula pikiran dan perasaanku
biarkanlah aliran darahku merasa kehadirannya
biar terukir ketulusan, keabadian, kesejatian
dalam raga dan jiwa ini...
biar dapat ku nikmati,
biar dapat ku syukuri
ternyata Kau begitu indah..

Refleksi Perasaan, Hati dan Cinta

Hati adalah persembahan Sang Khalik yang paling suci, indah, nan mulia. Dia ada di setiap insan. Dia akan selalu jujur meski si-empunya jahat lagi kejam. Dia cahaya (Nur) yang takkan pernah padam, meski gelap menyelimuti.

Wahai insan bumi, penuhilah hati ini dengan hembusan sepoi penebar kesejukan dan kedamaian dengan cinta dan kasih sayang. Jangan relakan hati ini terpolusi limbah kedengkian, kenistaan, kemunafikan dan kejahatan abadi.

       Biarkan ia sebening embun pagi, selembut sutra, dan seputih kapas. Biarkan hati terus berpijar, menjurai, mengukir dan mendesain kehidupan, seiring waktu yang berjalan. Biarkan ia semurni Hati Kapas begitu ringan terbang melayang menggapai asa dan mereguk kebahagian menuju cahaya kebenaran hakiki, berteman mentari dan membelai erat dewi malam.

     Dia akan melantunkan senandung pujian suci, yang tertuang dalam puisi-puisi eksotik, sehingga jiwa akan selaras dengan perintah pencipta-Nya dan berkata tidak untuk semua larangan-Nya.


Hidup tanpa cinta
Kata Pepatah Bagai sayur tanpa garam
Cinta adalah bumbu pelengkap kehidupan
Tebarlah cinta di sekelilingmu Agar semua yang ada disekitarmu bisa merasakan adanya kehangatan cinta
Tumbuhkanlah cinta untuk sesama Agar mereka merasakan kehidupan yang sesungguhnya
Agar kamu merasa selalu hidup dan berarti tuk orang-orang disekitarmu
Hidup berarti pabila kita mampu tuk berbagi Cintalah yang mampu memberikan arti hidup yang sesungguhnya
Maka hiduplah dengan cinta….