Jumat, 23 November 2012

AKKB

-->
Alas Keras Keramik Basement
Alas keras keramik basement
Menemani setiap obrolan-obrolan yang kami bincang
Lagu-lagu yang kami dendang
Isu-isu buruk yang kami tendang
Pejabat-pejabat bejat yang kami serang
Politisi-politisi korup yang kami buang

Alas keras keramik basement
Kita namai ini sebuah sarang
Tempat macan-macan yang siap berperang
Prajurit sejati yang membawa pedang
Membantu masyarakat yang sudah berang

Alas keras keramik Basement
Debat diskusi mencari menang
Semua kawan tak ada curang
berjuang mencari peluang
Berharap ia akan datang
Ide-ide cemerlang yang terang benderang

Pagi itu seperti biasa aku menghabiskan waktuku dengan membaca buku, tidak ada kuliah. Aku jelang matahari dengan segelas teh panas karena di pagi ini aku bebas tanpa kelas, lembar demi lembar aku baca. Setiap kalimat yang keluar dari buku itu aku coba pahami dan resapi maknyanya. Sangat indah, semakin aku sering membaca buku maka semakin aku merasa bodoh. Dunia ini sungguh luas, ilmu dan informasi semakin hari semakin meninggi. Kadang aku merasa tidak dapat mengimbanginya, aku terasa kecil dalam perkembangan ilmu dan informasi yang besar. Tetapi aku tidak berkecil hati, aku berusaha dan mencoba untuk menguasai dan mengetahui setiap informasi dan setiap ilmu yang kubaca dari buku, yang kudapat dari bangku kuliah ataupun alas keramik keras basement kampusku. Alas basement kampus yang sekarang kurindu, karena ketika semester awal dari sanalah aku mendapatkan ilmu, entah itu keluar dari seniorku, dari kawan seangkatanku, ataupun dari juniorku. Aku sangat rindu suasana itu, namun kini itu semua tinggal kenangan. Mahasiswa di zaman sekarang lebih asyik menghabiskan waktu mereka di Mall-mall, café-café, restoran-restoran, sevel-sevel, ataupun tempat-tempat kapitalis lainnya. Aku muak, aku bosan. Padahal dari alas keras keramik basement itulah kadang muncul ide-ide brilliant tentang jalan keluar masalah-masalah internal kampus, event-event mahasiswa, dan bahkan jalan keluar dari sebuah masalah yang sedang di risaukan oleh Negara. Lebay memang, tapi itulah kenyataannya. Alas keras keramik itu kini hanya menjadi tempat pembuangan sampah mahasiswa yang asyik nongkrong atau pacaran. Buku yang dulu menjadi kawan mahasiswa, kini hanya menjadi pajangan di lemari-lemari buku di kots-kots mereka. Mereka kini tak ubahnya seperti boneka wayang yang dimainkan oleh dalang, namun dalangnya tak terlihat, dalang itu bernama Kapitalishedonisme.

Dalang tersebut sangat menginginkan para wayangnya untuk sibuk dengan kesenangan duniawi dan membuat lupa para wayangnya bahwa mereka adalah agent of change, lalu dimanakah bersembunyinya jargon yang dahulu pernah ditakuti oleh seluruh pejabat pemerintahan ? Jargon yang membuat bulu kuduk pejabat pemerintah yang korupsi ? Mahasiswa tak ubahnya seperti anak SMA, SMP, atau bahkan SD karena mereka hanya mendapatkan ilmu dari dosen-dosen mereka tanpa mereka berani mengkritisi ataupun menolak argument yang disampaikan dosen tadi. Cukup sudah drama yang dibuat oleh Mahasiswa zaman sekarang. Dosen ibarat sutradara dan Mahasiswa sebagai aktor kelas teri yang bisa dimanfaatkan oleh dosen-dosen mereka, andai alas keras keramik basement masih ada dan dapat dipakai untuk membuka forum-forum diskusi mungkin Mahasiswa di zaman sekarang tidak akan terkungkung dan menjadi wayang bagi dalang Kapitalishedonisme.
Kini di otak mereka hanyalah bagaimana caranya mereka bisa hidup senang tanpa ada gangguan dan hambatan yang berat. Mereka tidak berani membuka mata terhadap informasi baru, mereka terlalu takut beropini terhadap pemerintah. Aktivis yang dahulu menjadi orang-orang penting di kampus hanya mencari eksistensi tanpa mengimbanginya dengan esensi, akhirnya yang muncul adalah mahasiswa-mahasiswa sok tahu yang hanya bisa berbicara tanpa dapat membuat konsep ataupun membuat system baru. Paradigm ini diperparah dengan adanya demo bayaran, yang isinya adalah mahasiswa yang hanya mencari keuntungan dari aksi tersebut. Walaupun tidak semua mahasiswa yang ikut dalam aksi bayaran memiliki pandangan matrealistis. Tapi ada yang lebih parah, mahasiswa yang aksi hanya mencari sensasi ataupun mencari esksistensi. Agar dibilang dia adalah aktivis sejati, yang sejatinya hanyalah bullshit. Aksi tanpa memahami grand title yang dibawa oleh para masa aksi itu, ini terjadi di beberapa kampus, ketika penulis ikut dalam sebuah aksi besar dengan grand title yang besar dan masa aksi dalam jumlah besar pula. Banyak dari kawan-kawan penulsi yang tidak tahu aksi apa ? Ataupun prosedur dari aksi tersebut. Bahkan ada dari beberapa mereka yang mengaku ikut aksi karena di paksa oleh senior. Lalu ? Siapa yang salah senior yang tidak mengajak briefing membahas grand title aksi ? Atau juniornya yang mau saja diketeki oleh para Senior mereka ? Biasanya junior yang ikut aksi dipaksa oleh senior mereka berpikir lebih baik mereka masih bisa ikut aksi (walaupun dipaksa) daripada kawan-kawannya yang lain yang sama sekali tidak ikut aksi dan hanya bisa menonton mereka dari layar televisi. Benar-benar banyak yang salah dari sistem yang ada di dunia Mahasiswa zaman sekarang. Semoga saka dalang Kapitalishedonisme itu dapat segera kita bunuh bersama-sama, hingga jargon mahasiswa sebagai agent of change benar-benar dapat terealisasi dan dapat dirasakan manfaatnya oleh Bangsa, Nusa dan Agama untuk kedepannya.
Dian Ajis Syah Putra

Tidak ada komentar:

Posting Komentar